UMKM Yang Bertahan Di Pademi Corona

Bisnis UMKM adalah salah satu sektor yang terkena dampak pandemi korona. Meski begitu, ada empat UKM yang menerapkan strategi khusus untuk bertahan hidup dari wabah virus korona. Yang pertama adalah pemilik apotek E- Medica Ratno Sanjoko. Beberapa bisnisnya, terutama pada bagian jasa, hancur oleh pandemi Covid-19. “Memang, selama pandemi ini beberapa bisnis saya harus ditutup sementara. Tetapi itu tidak menghancurkan semangat saya,” katanya saat siaran pers, Senin (20/4).

Dia pahami bahwa bisnis farmasi lebih menjanjikan di tengah pandemi. Transaksi di apotek yang berlokasi di Surabaya Barat melonjak 60% selama pandemi virus korona. Produk yang telah meningkat secara dramatis dalam penjualan seperti suplemen, masker, vitamin dan pembersih tangan.

UMKM yang dibantu oleh Pemerintah Kota Surabaya terus didorong untuk bekerja pada topeng dan peralatan perlindungan pribadi untuk tenaga medis. Bahan yang di gunakan dalam pembuatan masker dan APD di pasok oleh Pemerintah Kota Surabaya, UMKM tinggal di rumah masing-masing.

Sebanyak 6, 3 juta bisnis mikro, kecil serta menengah jatuh selama pandemi Covid-19. Penghasilan harian mereka turun drastis, mengancam kelangsungan bisnis. Beberapa dari mereka juga mencari solusi untuk bertahan hidup, yang memanfaatkan teknologi.

Pemilik restoran Asoka Corner yang beroperasi di Medan, Kania (32), mengandalkan layanan ojek online untuk operasi bisnisnya. Restoran ini awalnya kuat dengan konsep makan di tempat (makan di). Namun, pembatasan sosial dan seruan untuk melakukan pekerjaan di rumah membuat restoran itu kosong dari pengunjung.

Karena seruan hening di rumah disampaikan, tidak ada transaksi yang dilakukan saat dua hari pertama di restoran. Kania mengatakan, omset hariannya turun 50-60 persen selama pandemi. Dia juga mengonversi cara berdagang dari konvensional ke digital. Dia sekarang hanya melayani pembelian melalui pesanan online, seperti Go Food.

Tidak semua Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menyerah di tengah pandemi korona. Beberapa ada yang melakukan strategi khusus untuk memproduksi keluaran terbaru dalam usaha di bidang kuliner, contohnya kopi literal serta makanan yang dibekukan. Kopi literal ini dapat dipesan dalam e-commerce seperti Tokopedia dan Buka lapak, serta Grab dan Gojek.
Mereka kemudian menjajakan produk mereka secara online, untuk menjangkau pelanggan yang melakukan aktivitas di rumah hanya dengan efek pandemi virus korona.

Produk makanan beku dapat dimasak oleh konsumen, dengan mudah. Untuk skala UMKM, yang mempunyai usaha Si Jagur Bandung Eka Sopian juga berinovasi dengan menjual paket menu makanan beku di Go Food.

Gojek memang menambahkan fitur baru untuk layanan Go Food, yaitu Ready to Cook. Eka mengambil keuntungan dari layanan pengiriman makanan seperti Go Food, dan fokus pada pemasaran selama pandemi Covid-19. Anda melakukan ini dengan memaksimalkan paparan dan visibilitas untuk meningkatkan lalu lintas dan potensi penjualan. “Meskipun situasi umum sulit karena Covid-19 mereka, tetapi selalu ada pesanan yang dimasukkan pada resto saya. Apalagi ketika happy hour selalu ramai Hari Kuliner Nasional (Harkulnas) Go Food diskon 70%,” kata Eka dalam sebuah siaran pers, Selasa (21/4).

Sementara pemilik Takoyaki Ichi Citra Ajeng menggunakan segel keamanan Go Food untuk menutup wadah pengemasan agar tetap bersih saat mencapai konsumen. Dia juga menambahkan menu sehat, yaitu minuman jus dengan buah serta susu asli, dan mengadakan program Driver’s Treat.

Gojek membuat pembukuan, keuntungan yang di raih mitra dalam menjalankan program Harkulnas rata-rata 2, 75 kali lebih tinggi dari pedagang yang belum ikut serta. Sedangkan Fitri Saniatul Hasanah yang memiliki bisnis makanan bernama Vidikitchen di Bandung berfokus pada pembersihan dapur dan peralatan memasak.Di tengah-tengah pandemi korona ini, ia mengandalkan layanan Kirim ke Banyak Destinasi dan Pemesanan Ganda pada platform Grab. Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan bahwa pengiriman barang oleh penjual sosial menggunakan GrabExpress meningkat sebesar 40% selama pandemi korona. “Di masa-masa sulit seperti hari ini, kami menyadari bahwa berhenti berusaha membuka jawaban,” katanya dalam siaran pers kemarin (20/4).

Untuk dapat terus mencoba selama pandemi korona, ia mengandalkan pemesanan online seperti Grab Express. (Elfiza)

Sumber:

  1. https://katadata.co.id/berita/2020/04/21/umkm-bertahan-pandemi-corona-ciptakan-tren-baru-di-bisnis-kuliner.
  2. https://katadata.co.id/berita/2020/04/20/siasat-empat-umkm-bertahan-di-tengah-pandemi-corona.
  3. https://bebas.kompas.id/baca/ekonomi/2020/04/22/umkm-bertahan-dalam-pandemi-dengan-inovasi/.

Tags: